Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

27 August 2012

Love Triangle

0 comments
Come up to meet you, tell you I’m sorry. You don’t know how lovely you are.

My heart is in a twist. But he sang “The Scientist” to me, and my heart untwisted just a little. He learned all the words. I told him I love that song, and he learned all the words.

I had to find you. Tell you I need you. Tell you I’ve set you apart.

“You know I love that song,” I tell him again.

Tell me your secrets. And ask me your questions. Oh, let’s go back to the start. 
Running in circles, coming up tails. Heads on the science apart.

A day passes. “I need to spend some time with her now that you’re gone,” he says. “I need to reevaluate my feelings. What I’m doing isn’t fair to me, it’s not fair to her — it’s really not fair to you.”

He’s talking about his on-again, off-again girlfriend. She’s the only thing standing in my way. in our way.

My entire body goes cold. I say nothing. There’s a 50-50 chance he’ll choose me. There’s a much higher chance that he won’t choose at all.

Nobody said it was easy. It’s such a shame for us to part.



Oh take me back to the start.

“Sorry if I said anything crazy yesterday. I didn't really meant it,” I text him the next morning. I can’t remember if I called him, and the saved texts don’t reveal much.

I was just guessing at numbers and figures, pulling the puzzles apart.

I talked with my bestfriend back then “He loves me for years. Then I leave, and after only two weeks, he doesn’t love me anymore,” I pause. “Where did I do wrong? Does it make any sense?” I’m hyperventilating.

Questions of science, science and progress do not speak as loud as my heart. 

“I love talking to you. I love hanging out with you,” he says. “I don’t know what it is; I can be myself with you. She called me and I had nothing to say. I was anxious to hang up just so I could talk to you… I really, really miss you.”

It feels like ages ago since I heard those words. Now he says, “I love you, but I love her too. Her and I get along well together. I’m not a piece of shit. I can’t just throw that all away.”

Tell me you love me. Come back and haunt me. Oh and I rush to the start.

“I missed you,” I say. I’m begging for attention.
He smiles, and says nothing.

He strokes my hair and hug me tight. I’m begging for time to rewind to that day when he told me he loved me/missed me/wished I was there with him.

Running in circles, chasing our tails. Coming back as we are. 
Nobody said it was easy. It’s such a shame for us to part.

“So you guys are really good then?” I ask him. “You spend hours on the phone and really love each other? You have a million things in common and crack each other up and want to be together all the time?” There’s a hint of desperation in my voice. He doesn’t hear it because it’s slathered so thickly in sarcasm.

“No…” He trails off. “You and I have all that; you and I are the best. But then, I know this is for the best, for you and for me. What we have is more special than any relationship — but I have to let you find another better man. And that’s really important.”

Nobody said it was easy. No one ever said it would be this hard. I’m going back to the start.

My heart is in a twist still, but also, I’m OK sleeping by myself. And finally, I too have learned all the words to “The Scientist.”

18 March 2012

2 Kota, 2 Cerita.

0 comments
Cerita 1
Apabila yang satu membangun
dan yang lain merombak,
apa gerangan hasil mereka
kecuali jerih payah?



Bali

Ombak memukul lembut pinggiran pantai, lalu meninggalkan gumpalan pasir basah. Rasya berjalan meninggalkan jejak-jejak pendek di atas pasir basah. Lalu berhenti saat matahari mulai memerah dan menyusup ke kaki langit barat.

"Mau makan malam di hotel atau ke restoran? Kebetulan aku mau ke luar." Tiara muncul tiba di belakang Rasya.
"Ah kamu membuatku kaget."

Bila melihat sekilas, tidak sulit bagi Rasya untuk dapat menyukai perempuan itu. Berkulit putih mulus, berambut panjang dan berwajah oriental. Tutur katanya halus dan sopan. Tak sedikitpun memberi kesan jelek pada perempuan itu.

"Makanya, kalau matahari sudah terbenam jangan berdiri di pantai lagi," Katanya lembut.
"Memangnya kenapa? Aku cinta laut. Tak peduli jam berapapun itu, laut selalu terlihat cantik buatku."
"Aku rasa kamu terlanjur jatuh cinta pada pulau ini, Rasya"

Rasya mengangguk.
"Bagaimana? Mau ikut aku ke restoran di Kuta atau mau makan di hotel saja?"
"Aku ikut"

Tiara menarik tangan Rasya yang sepertinya masih berat hati meninggalkan pantai itu. Dia masih ingin merasakan hempasan ombak mencuci pasir-pasir yang menempel di kedua kakinya. Dia masih ingin menikmati keindahan pantai. Pikirannya masih berselancar mengikuti arus ombak pantai.

Lalu Rasya teringat lagi tujuan utamanya ke Bali. Dengan patuh, dia mengikuti Tiara menuju parkiran.

Sepanjang perjalanan, Tiara banyak bercerita tentang dirinya. Rasya hanya diam memperhatikan, sesekali ikut tertawa menanggapi celotehan Tiara.

Tiara tau, laki-laki di depannya tidak benar-benar mendengarkannya. Tapi dia tidak peduli, dia terus mengajak Rasya mengobrol, menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.

Mengawali makan malam, pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa minuman. Satu gelas sloki dengan isi cairan bening kekuningan dan satu gelas cocktail tinggi kecil yang berisi cairan berwarna merah pekat. Dari aromanya sangat terasa bahwa minuman ini mengandung alkohol.

"I'm just gonna get myself so drunk and wasted so I won't remember anything about her." Kata Rasya dalam hati.

Biasanya, orang meminum satu sampai tiga sloki untuk menghangatkan badan. Namun kali ini, Rasya meminum empat sloki.

"Tequila floor!" Bisik Rasya kepada Tiara.

Floor, bukan four, karena bila minum empat sloki atau lebih maka bisa mabuk dan ambruk ke lantai, oleh karena itu dinamakan tequila floor.

Rasya yang sudah mulai mabuk, semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Tiara. Merangkul pinggang Tiara dan menariknya mendekat. "I love you, would you be mine?"


Tiara masih sadar. Sekelebat bayangan kekasihnya di Jakarta terlintas di pikirannya. Namun, pesona laki-laki yang sedang memeluknya saat ini tidak dapat ia hindari.
"Kiss me." Tiara butuh bukti untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dia kaget sendiri dengan kalimat yang keluar dari bibirnya. Tapi masa bodoh, Tiara hanya ingin meyakinkan perasaannya, tak peduli akibat apa yang timbul kelak.

Cerita 2

Jangan menyerahkan diri
kepada kesedihan,
dan jangan pula menyiksa dirimu
dengan disengaja.



Bandung

Udara dingin Bandung membuat Denise sedikit mengigigil. Erdas meminjamkan jaketnya kepada Denise yang hanya memakai blouse tipis. Angin kota Bandung di malam hari memang sangat menusuk. Apalagi kali ini Erdas mengajak Denise ke daerah Dago Pakar, perbukitan di Bandung. Dari atas sana pemandangan kota Bandung malam hari sangat romantis. Erdas tau, Denise suka dengan citylight apalagi jika ditambah secangkir cappucinno untuk menghangatkan tubuh.

"Masih dingin gak? Perlu gue yang menghangatkan?" 

Denise tersenyum dan menggeleng. "Udah nggak ko, El. Makasih ya"

Denise memanggil Erdas dengan sebutan El, karena Denise memang sedikit cadel dan panggilan El untuk Erdas cukup nyaman untuknya. 

"Anjir manis banget senyumnya, gak kuat gue" Kata Erdas dalam hati. Susah payah Erdas mengatur nafasnya yang naik turun karena gugup tidak karuan. Dia menyukai gadis berkulit cokelat dan berambut ikal panjang ini sejak setahun lalu. Erdas tidak habis pikir bagaimana mungkin mantan pacarnya Denise, si Rasya brengsek itu bisa setega itu menyia-nyiakan Denise. Dia malah flirting kanan kiri sama cewek-cewek lain di luar sana. Menurut Ersad, Rasya tidak pantas untuk Denise. Cewek sebaik dan selembut Denise tidak pantas diperlakukan seperti itu.

Erdas memanggil pelayan dan memesan satu gelas hot caramel cappucinno untuk Denise dan satu gelas lagi hot hazelnut chocolate. Erdas tidak menyukai kopi, tapi dia sangat menggandrungi cokelat panas, menurutnya "coffee is so mainstream, dude"

"Makasih ya El udah mau nyempetin waktu lo nyamperin gue ke Bandung. Gimana perjalanan Semarang-Bandung tadi malam?" Denise membuka percakapan.

"Buat elo, apa sih yang gak gue kasih. Lo mau apa? Bilang aja sama gue. Lo ke London juga bakal gue samperin ko, apalagi cuma Bandung, keciilll"

Denise tertawa. Erdas selalu bisa menjawab dengan jawaban gombalnya yang lucu. Sangat menyenangkan. 

"Seandainya aja Rasya yang ngomong begitu" batin Denise.

"Gue serius Nis, gue sama sekali gak bercanda. Kenapa elo malah ketawa sih." Erdas meringis dalam hati.


Denise selalu lari ke Erdas saat ia sedih dan sakit hati karena ulah mantan pacarnya, Rasya, dan secepat cahaya juga Erdas akan datang menemui Denise, menawarkan bahunya, mengusap-usap kepala Denise dan berkata "Everything is gonna be alright, Nis. Ada gue di sini, lo tenang aja yah"

Erdas menyalakan rokok Marlboro merahnya untuk mengatasi kecanggungan. Asapnya mengepul di depan wajah Denise. Denise yang biasanya protes karena dia bakal batuk-batuk kalau menghirup asap rokok, kali ini lebih banyak diam. Dia hanya menyapu pandangan ke sekeliling, di meja dekat balkon ada sepasang kekasih yang sepertinya sedang merayakan hari jadi mereka. Denise hanya tersenyum, dari sorot matanya terlihat dia seperti sedang mengenang sesuatu.

Keheningan beberapa saat itu dipecahkan Erdas, "Nis, diam aja sih. Lama-lama kutuk gue aja jadi patung daripada gue di sebelah lo gini tapi lo-nya diem aja. Biasanya lo bawel, Nis. Ooh, gue tau nih kayaknya lo laper ya? Mau pesen apa? Nih pilih-pilih deh"

"Hahaha lo tau aja sih gue laper, El. Pesen spagetti bolognaise deh gue"

Kasihan banget si Erdas ini sebenarnya, dari tadi dia pasti bingung kenapa aku tidak menghiraukannya. 

"But if you're the best friend that I know you are, El, you'll understand that I just need my solitary moment right now."

"Lo bisa cerita sama gue Nis, kalau lo mau. Gue siap mendengarkan. Muka lo jelek tau gak manyun terus gitu. Senyum dong. Gimana mau ada yang naksir kalau mukanya cemberut gitu terus hehehe"

"Dia lagi ngapain ya El di Bali sana? Terakhir dia balik dari Bali, semuanya jadi berubah."

"Paling dia lagi have fun, flirting sama cewek-cewek di sana Nis. Ngapain sih lo masih mikirin dia aja?"

"Hahaha gak apa-apa El, gue cuma kepikiran aja sih. Pasti lo bosen ya dengerin cerita gue tentang dia? Maaf ya. Lo sendiri gimana? Deket sama siapa sekarang? Ceritaaaa dong.."

Ersad menyeruput cokelat hangatnya, menyalakan lagi batang rokok keduanya, menghisapnya dan menghembuskannya keras. Seperti ingin mengeluarkan sesuatu yang selama ini menghimpit dadanya. Perasaan itu. Perasaan yang tidak sanggup ia utarakan langsung kepada gadis di sebelahnya ini.

"Gue lagi deket sama lo sekarang, ini gue duduk sebelah lo. Gak ada siapa-siapa lagi, selain kita berdua di sini kan."

Denise mendorong pelan lengan Ersad sambil tertawa.

"Iiihh elo mah emang seneng banget deh sok-sok misterius kalau ditanya masalah cewek. Emang lo gak mau punya pacar lagi, El? Biar ada yang bisa ngurusin lo, ngingetin makan, ngingetin jangan ngerokok banyak-banyak, jangan sering-sering minum. Liver lo tuh udah diforsir banget kerjanya, tapi gak pernah dijaga"

Ersad kenal Denise sejak SMA. Di mata Ersad, Denise tidak banyak berubah : sedikit pendiam tapi ramah dan cepat akrab dengan semua orang, perempuan banget, dan selalu terlihat care pada semua orang.

"Gue mau lo yang ngurusin gue, ngingetin gue makan, ngingetin jangan ngerokok banyak-banyak, jangan sering minum. Gue mau lo yang jadi pacar gue, Nis.."

Ersad mengatakan hal itu dengan cepat namun berirama, dalam satu tarikan nafas. Dia menatap lekat-lekat bola mata Denise yang membesar saat Ersad selesai mengucapkan kata-kata itu. 

Denise diam. 

Lalu selang dua detik berikutnya, ia membuang pandangannya dari Ersad.

17 March 2012

Sebuah Pilihan

0 comments


Aku sudah menunggunya 30 menit. Dia belum datang juga. Temanku yang satu ini memang paling parah kalau sudah janjian. Dia yang menentukan jam, dia juga yang selalu telat datang.

Cappucino Ice Blended yang aku pesan tinggal sisa setengah. Suasana homey disini cukup membuatku nyaman. Kedai dengan konsep jadul ini unik banget, kursi yang nggak matching dengan mejanya, mainan bajaj jadul, meja dengan kaleng rombeng, mesin pop corn jadul ala pasar malam dan lampu dari tudung saji. Bahkan tadi aku hampir saja merobek buku menu saking rapuhnya.

Aku mengotak-atik Blackberry di tanganku. Tidak ada bbm, hanya mengescroll lini masa dari atas ke bawah. Tidak membacanya benar-benar, pikiranku kemana-mana.

"Eh, udah lama ya?" Temanku datang dengan santainya, menepuk pundakku dari belakang. Untung aku gak jantungan.

"Menurut lo aja, nyet. Janjian jam berapa, dateng jam berapa. Traktir gue ye ntar sebagai ongkos nunggu"

"Macem taksi panggilan aja lo pake ada ongkos nunggu segala hahaha"

Namanya Dara, cewek yang aku kenal dari SMA ini memang salah satu sahabatku yang cukup cuek. Mantan pemain basket andalan satu sekolah. Dulu dia tomboy, tapi penampilannya berubah sejak kuliah dan pacaran dengan cowok yang beda tiga tahun lebih tua darinya. Kebetulan pacarnya itu sedang melanjutkan kuliahnya di Belanda. Jadi bisa dibilang Dara menjalani hubungan LDR (long distance relationship) sudah satu tahun belakangan ini.

"Kei, gue mau curhat."

"Kenapa?"

Dara menyesap lemon tea hangatnya.

"Gue mau cerita, cuma sama lo aja. Gue gak tau mau cerita sama siapa lagi. Gue cuma percaya sama lo. Tapi lo gak boleh judge gue sebelum gue selesai ya."

"Masih kaku aja sih Dar, tenang aja kali. Gue udah pernah merasakan semua posisi. Santai. Cuma belom pernah posisi 69 aja sih hahahaha"

Tawa Dara meledak. "Sakit jiwa emang lo, Kei"

"Gue akhir-akhir ini lagi flat banget sama Andreas. Gue punya pacar tapi gak real ya kan. Apa-apa sendiri, nonton bioskop sendiri. Gue udah terbiasa kemana-mana sendiri. Status doang gue punya pacar, tapi kayak gak punya. Gue lagi butuh orang untuk nyemangatin skripsi gue, secara langsung, bukan cuma kata-kata 'semangat sayang' dari jauh aja."

"Lo masih mending deh Dar kayaknya, daripada gue gak ada yang ngasih semangat sama sekali"

"Hahaha iya juga ya, kasian juga jadi lo Kei. Eh Kei tapi masalahnya sekarang adalah gue lagi deket sama temen kantor gue di tempat magang. Dia beda lima tahun sama gue. Gue enjoy banget sama dia, ketawa-ketawa terus"

"Oh yauda terusin aja, temen kan?" Kataku dengan alis terangkat dan menyunggingkan sebelah senyum, menggoda Dara. Aku yakin cowok itu bukan sekedar teman biasa kalau dia datang-datang kesini langsung curhat masalah itu.

"Iya temen have fun doang, Kei. Tapi masalahnya adalah dia udah punya CALON ISTRI"

"Hah? Lo gila." Aku hampir tersedak minumanku.

Dara bukan tipe cewek player. Aku tau perjalanan cintanya dari semenjak SMA sampai kuliah sekarang. Dia tidak pernah macam-macam. Bahkan sekedar jalan dengan teman cowok lainpun tidak pernah dilakukannya. Aku rasa dia cinta mati sama pacarnya, Andreas.

"Iya Kei, bahkan minggu lalu gue nemenin dia nyari gedung buat nikahannya, nemenin dia ke percetakan untuk nyetak undangan, bahkan liat-liat cincin kawin dan nyobain cincin buat calon istrinya di jari gue. Udah kayak gue aja yang jadi calon istrinya."

Ada jeda yang cukup panjang beberapa detik setelah itu. Aku diam, bingung ingin berkomentar apa. Lalu Dara melanjutkan ceritanya.

"Dia tau gue punya pacar. Gue juga tau dia punya calon istri, walaupun pacar kita sama-sama jauh. Dia bakal nikah 6 bulan lagi, Kei. Gue tau ko gue bakal pergi dari kehidupannya dan gue bakal nikah sama Andreas nanti. Dia bakal balik ke Jakarta dan ngelamar gue setelah gue wisuda Kei."

"Tapi 6 bulan masih lama loh Dar, lo yakin? Kalau lo udah terlanjur sayang ntar susah ngelepasnya. Lagian kalau udah calon istri gitu hubungannya udah antara 2 keluarga besar. Susah Dar, kasian elonya nanti."

"Kei, please jangan judge gue. Gue tau ko posisi gue. Waktu, keadaan dan kondisi yang memunculkan ini semua."

Dara tetap bersikeras bahwa dia hanya sekedar teman have fun dengan calon suami orang itu. Memang susah memberikan nasihat sama orang yang lagi jatuh cinta, sama susahnya saat nyuruh orang yang baru putus cinta untuk move on.

Aku yakin Dara tau kalau dia sedang jatuh cinta, dia hanya tidak mau mengakuinya di hadapanku atau bahkan pada dirinya sendiri pun ia menyangkal hal itu.

Kita memang tidak punya kekuasaan dengan siapa kita akan jatuh cinta, tapi kita selalu punya pilihan apakah kita akan meneruskan menjalin hubungan tersebut atau tidak. Apakah kita akan memilih ego demi kebahagiaan kita sendiri ataukah memilih hati nurani dan tidak menyakiti hati orang lain.

Aku akan mengingatkan Dara lagi nanti, bahwa hati yang disakiti adalah hati milik seorang wanita yang sama seperti dirinya. Bagaimana posisinya bila dia menjadi calon istri teman have funnya itu?

Tentu hubungan milik wanita itu, sebagai seorang calon pendamping hidup lebih berharga dibandingkan dengan hubungan Dara dengan calon suami orang lain yang hanya sebagai teman have fun.

Lagipula untuk apa merendahkan harga diri sebagai wanita perusak (calon) rumah tangga orang lain, sementara di lain sisi dia merupakan wanita terhormat yang memiliki calon pendamping yang baik dan menyayangi dia apa adanya?

Apa yang dia cari?

Semoga aku tidak terlambat nanti.

Semoga semuanya kembali ke tempat yang seharusnya dan semua orang berbahagia.