Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

15 July 2014

Hi, You.

0 comments


The man of my dreams was perfect. He was literally everything that I've been hoping and praying for. He is the kind of man that seems to live only in girl's fantasy. Some people say it is impossible for his qualities to exist in real life. He is just an imagination but he is actually true.

He is the man permeated with depth and complexity. He did not just give me surface but also he gave me soul. He is my best friend whom I share inside jokes with, the one who is always there for me. He lifts me up when I'm down and often times he puts me in my place when I've become ridiculously stubborn.

With him, I was able to revive memories that I've already preserved in my mind and relive the nostalgic feeling of my innocence. He has the kind of energy that continues to take me to expeditions of endless explorations and adventures.

06 December 2012

First Time I Met Him

1 comments


He is a friend of mine. I had first time met him when my friend introduced me to him in some meeting. I was so young, clueless, and innocent back then. Let’s just say that we were the victims of a match-making fiesta by good willed relatives.


We made a conversation just to eliminate the ambush silence between us and it was me that started the conversation.


The conversation keep going and one day, it ended up on the messenger for every night and day.


He, a playful and nice person. Combine with witty and funny made him as an additional attractive spectrum color for brighten my day.


He was nice enough to find a love and nicer still to be thinking on a long term-basis with her. He never gave me a chance to ‘no’ him. I’ll never forgive him for that.


When he told me that he was in love and not with me, that’s when I think I actually began liking him.


We’d spoken once. A late night conversation, when I sat on the stairs and spoke in hushed tones, which seemed way too loud for the night. I liked his voice. I was also discreetly enjoying his smell.


He was busy trying to make a decent pattern of his life. I was young enough to dance through life and make everyone else dance. It wasn’t the right time for ‘us’.


And like all good things, we lost in touch. But any mention of a name, as his, and I would smile to myself. I like his name.


Years gone by, people came and left. The memory remained.


The next call was six years later.


The moment I picked up the phone and heard the voice on the other end, I knew it was he. Both of us were surprised.


Hesitant conversation, wary and curious too. Then leaving all bashfulness behind, a hearty conversation with both of us having so much to say and yet nothing at all.


His voice lingered in my head.


I almost like a dead deaf body when he asked me to meet somewhere. I was gasped and stuttered though.


Then, when we finally met. I kinda nervous and I really had no idea why I was so nervous. I usually could setting up my confidence in normal level as I met the new guy.


The way he fixed his eyes on me was kinda scary. In a good way. As if I couldn’t run nor hide anything. He sitting in front of me, listening. Every words I said. Fired him couples of questions like a bloody job interview, so damned intimidating.


Me, a girl who has defense as thick as china wall, opened myself to him. I feel vulnerable in front of him.


He smiled and said “Sorry for leaving you. I thought it never happened if I were with you for those years. But, you’re a stronger woman now. Not a spoiled little girl that I used to know.”


“So, I was remembered as a spoiled girl for you?”


He chuckled and rubbed my head. “In a good way, baby. From now, you’ll be just alright because I will standing behind you to support you and in front of you to protect you”.


And like always, he never gave me a chance to ‘no’ him. 





Leave Myself Behind

0 comments

For every step I take towards you
You take none
And so I take two back

For every step I take towards you
I walk further away from you

25 October 2012

About Loving You

0 comments



Loving you feels like learning a foreign language. At first it doesn’t make any sense to me and I don’t understand what I keep doing wrong. I’m flustered and I sound stupid. But the point of learning a language is that the more time you spend with it, the better you get. 

Being in love with you feels like learning more about you, what you like, what you don’t like. Loving you feels like being out and seeing something that reminds me of you. 

Love is like being fluent in you..

15 October 2012

Single and Married Life

0 comments
Ceritanya hari minggu yang cerah itu gue iseng keliling Jakarta main sama temen gue. Dari mulai nemenin dia ke dokter gigi di daerah Cempaka Putih, lalu gue medical check up di daerah Matraman, lanjut makan soto mie di pinggir jalan tapi enak banget daerah Gambir. Lanjut lagi agak ke selatan, Pacific Place. Maklum, temen gue ini belom pernah ke mall yang ngehip di Jakarta itu hahaha dan akhirnya kita berujung di sana.

Terus secara kita masih kembung abis makan soto mie pake nasi dan satu gelas besar es kelapa muda di daerah Gambir itu, mau nonton juga masih jam 11, akhirnya kita end up duduk-duduk cantik sambil ngemil pancake di Pancious. 

Ngobrol ngalor-ngidul tentang kehidupan setelah kita kerja sekarang, tentang usaha dia buat move on dari mantannya, tentang pacarnya yang sekarang sibuk sampai gak punya waktu buat dia. Lalu tentang gue dan kerjaan gue, tentang gebetan-gebetan lucu gue hihi. Tentang kenangan-kenangan masa kuliah di Bandung yang selalu dan selalu gak pernah bisa habis untuk dibahas. Yah itulah.

Sambil ngobrol-ngobrol dan makan, gue merhatiin orang di sekitar situ. Di samping meja gue, isinya anak-anak ABG cewek yang rame banget ngobrolnya, gue rasa mereka lagi merayakan ulang tahun salah satu temannya, gue menerka-nerka sama temen gue "Kira-kira mereka SMA, kuliah atau kerja ya?", dilihat dari gaya berpakaian dan asesoris yang mereka pakai sih sepertinya mereka anak kuliahan semester 3 lah, tapi mukanya tua sih hahaha jadi antara 3 atau 5 atau malah lagi skripsi? entahlah.

Yang menarik adalah apa yang gue temukan di depan gue. Bahkan sempat gue ambil fotonya : 





Dua orang insan muda yang sedang menjalin cinta. Oke, bukan. Sepertinya dua orang ini hanya berteman atau bersahabat, atau lagi pendekatan? Dari gaya dan table mannernya, kelihatan cewek ini adalah cewek yang hmm mungkin sedikit high maintainance, classy dan elegant. Umurnya gue tebak antara 28-30an. Sedangkan cowoknya lebih cuek, makannya juga santai, gak pake manner-manneran, gaya bicaranya juga santai dan terbuka. Beda sama ceweknya yang terlihat lebih jaga sikap.

Gue dan temen gue iseng menerka-nerka apa yang kira-kira sedang mereka bicarakan? Tentang pekerjaan kah? Masa depan? Masa lalu? Atau masa sekarang? Tidak mungkin kalau soal pekerjaan karena itu hari minggu, lalu tentang apa? Di sini cowoknya lebih banyak berbicara, ceweknya lebih banyak diam mendengarkan. Oh well, menurut gue kalo misalkan cowok itu lagi pdkt, dia akan gagal. Karena satu kunci deketin cewek itu adalah : be a good listener.

Dari jari tangan mereka, gue gak melihat ada cincin kawin melingkar, jadi gue ambil kesimpulan sementara kalau dua orang ini belom married, dan dari bahasa tubuhnya juga sepertinya belom pacaran.

Mereka terlihat santai, ngobrol, ketawa-ketawa. Terlihat sangat menikmati orbrolan mereka. Lepas.

Lepas dari mengamati pasangan ini, pandangan gue beralih lagi ke meja berikutnya :






Pasangan muda, berbaju kompak merah-merah. Mereka membawa dua anak, keduanya laki-laki kalau gue tidak salah. Umur mereka gue tebak lebih muda dibandingkan pasangan sebelumnya, sekitar 25-27an, atau gaya mereka berpakaian aja ya yang membuat mereka terlihat lebih santai dan casual?

Saya melihat mereka sedikit sekali ngobrol, mereka sibuk dengan anak mereka. Mungkin karena anak-anaknya masih kecil, sekitar 3-4 tahun, makan pun masih harus disuapin. Boro-boro ngobrol seru kayak pasangan yang sebelumnya, pasangan ini makan buat dirinya sendiripun susah karena ngurusin anaknya. Kayak keliatan stres gitu.

Beda? Banget. Ekspresi si pasangan merah-merah ini juga terlihat tidak bahagia, kelelahan, tidak sumringah seperti pasangan sebelumnya. Mungkin kelelahan mengurus bayi? Bahagia kah mereka?

Temen gue yang sarjana sosiologi pernah bilang "Kalo udah nikah itu orientasinya bukan cinta lagi atau pasangan, tapi lebih ke tanggung jawab membesarkan anak-anak. Jadi semakin tua usia pernikahan, cinta bisa jadi makin pudar dan hilang di antara pasangan."

Menurut gue, sesibuk-sibuknya pasangan menjadi orang tua, tapi mereka harus juga menyempatkan diri untuk having quality time dengan pasangannya saja. Menghabiskan waktu berdua kayak waktu pacaran dulu hehehe. Jadi ikatan pernikahan juga makin kuat walaupun sudah termakan usia.

Aseekk. Ngomong apa lo, Den? Kayak yang udah nikah aja hahaha.

*brb cari calon suami*

08 October 2012

Everyday I Love You

0 comments

Masih ingat post saya sebelumnya tentang Percakapan Di Atas Rel?
Ya, saya bercerita ada salah satu teman saya yang ibunya terkena penyakit Alzheimer.
Dulu sekali, saya pernah menonton film korea yang judulnya Moment To Remember. Dari film itulah saya mengetahui penyakit Alzheimer, salah satu penyakit lupa ingatan kambuhan. Sang penderita hanya mengingat hal-hal yang sudah tertanam lama di benaknya, sedangkan seringkali melupakan hal-hal baru yang masuk ke memorinya.

Ini salah satu capture bbm dari teman saya mengenai kondisi ibunya : 
















Jujur saya sedih membacanya. Bayangkan perasaan ayahnya? 
Sang penderita bahkan lupa bahwa laki-laki yang selama lebih dari 20 tahun menjadi suaminya selama ini. Dia kira laki-laki tersebut hanya numpang di rumahnya.
Dia bahkan mengusir laki-laki tersebut dari rumahnya.

Bagaimana rasanya? Menjadi orang yang dilupakan?

Kalau di film Moment To Remember, sang suami terus mengingatkan istrinya yang menderita Alzheimer tersebut. Setiap hari, dia membuat post notes, menempel foto-foto pernikahan mereka, bercerita tentang mereka setiap hari. For short, sang suami mencoba membuat istrinya jatuh cinta setiap hari.

Bayangkan hari ini dia bilang mencintai kita, lalu besoknya dia memperlakukan kita seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenal kita. Walaupun kita tau dia seperti itu karena penyakitnya, bukankah tetap saja rasanya sakit?

Jatuh cinta sendiri saja sulit. Membuat orang jatuh cinta kepada kita lebih sulit lagi. Apalagi kalau kita harus melakukannya setiap hari?

Jadi, jika kamu yang di posisi laki-laki itu, apakah kamu akan melakukan hal yang sama?

05 September 2012

To Rumi, With Love

0 comments
From “The Awakening”
I found my dreams
but the moon took me away
It lifted me up to the firmament
and suspended me there
I saw how my heart had fallen
on your path
singing a song

From “Looking for Your Face”
I am ashamed
to call this love human
and afraid of God
to call it divine
Your fragrant breath
like the morning breeze
has come to the stillness of the garden
You have breathed new life into me
I have become your sunshine
and also your shadow

From “The Lovers”
The Lovers
will drink wine night and day.
They will drink until they can
tear away the veils of intellect and
melt away the layers of shame and modesty.
When in Love,
body, mind, heart and soul don’t even exist.
Become this,
fall in Love, and you will not be separated again.


31 July 2012

Finding Best of The Best

0 comments
Gue nulis ini sebagai lanjutan dari random thought gue kemarin malem pas pulang kerja di kereta. Iya gue udah pernah bilang kan sebelumnya, saat-saat gue lagi diam, lagi nunggu, gue suka mengamati sekitar, atau sekalinya cuek ya cuek banget asik sama pikiran gue sendiri.

Hasil dari pikiran gue yang melanglang buana pada saat itu adalah twit ini (bacanya dari bawah ya) : 


Beberapa minggu lalu ada temen gue yang curhat ke gue kalo dia baru putus, awalnya dia diputusin sama cowoknya, si cowok itu bilang "Kamu gak tau kan apakah aku yang terbaik atau bukan buat kamu kalo kamu gak pernah nyoba sama yang lain?" Lalu temen gue ini cuma bisa diam, pada saat itu dia gak tau harus jawab apa. Satu sisi dia mikir "Bener juga ya" dan di sisi lain, "Tapi gue cuma mau sama lo"

Dilema.

Daripada gue bawel dan lo kesel sama ocehan gue, mendingan gue kasih lo satu cerita deh, lagi-lagi tentang cinta. Bosen bosen deh lo baca blog gue yang isinya cinta-cintaan mulu, tapi bodo amat, blog ini kan blog gue, my blog my rules hahaha. Jadi gini ceritanya...

Aristotle bertanya pada gurunya, "Apakah cinta sejati itu?" Gurunya pun menjawab, "Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas. Petiklah satu bunga yang menurutmu paling indah dan jangan berbalik ke belakang." Kemudian dia melakukannya. Namun, Aristotle kembali dengan tangan hampa. Gurunya bertanya, "Mana bunganya?" Dia menjawab, "Saya tidak bisa mendapatkannya. Sebenarnya saya telah menemukannya. Tapi saya berpikir di depan masih ada yang lebih bagus lagi, dan ada yang lebih bagus lagi. Tapi ketika saya sampai di ujung taman, saya baru sadar bahwa yang saya temukan pertama tadi adalah yang terbaik. Tapi begitu saya kembali ke tempat saya membuangnya, bunganya sudah tidak ada, karena sudah ada yang mengambilnya dan menyadari kalo itu adalah bunga terindah di taman itu." Gurunya berkata, "Seperti itulah cinta sejati. Semakin kamu mencari yang terbaik, semakin kamu sadar kalau kamu tidak akan pernah menemukannya."

Apa yang lo tangkep dari cerita di atas? Anggep di dalam hubungan, lo itu kehilangan Mr./Ms. Very Good while you are busy finding your Mr./Ms. Perfect.

Gue pernah baca buku "The Paradox of Choice" oleh Barry Schwartz, di buku itu dijelaskan bahwa ada dua tipe manusia. Yang pertama adalah "Maximizers", dan satunya lagi "Satisficers".

Si tipe Maximizers ini adalah tipe orang yang beranggapan kalo dia harus mendapatkan segala sesuatu yang terbaik (maksimum) dan dengan niat menggebu-gebu dan usaha yang penuh perjuangan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, iya emang lebay gitu usahanya pol-polan banget.

Sedangkan tipe kedua si Satisficers ini adalah tipe orang yang dia punya tujuan, dia punya kriteria tertentu dan dia juga berusaha untuk mendapatkannya, tapi si Satisficers ini gak lebay, gak ngotot, ketika dia menemukan yang menurutnya cukup baik, maka dia akan merasa puas (satisfied) dengan pilihannya tersebut.

Mungkin si Aristotle ini bisa dikelompokan ke tipe Maximizers kali ya, karena dia pengen yang terbaik dari yang terbaik. Pada studi di buku ini, Maximizers mungkin akan mendapatkan yang terbaik menurut versi dia, tapi proses pencarian untuk mendapatkan yang terbaik itu sangat melelahkan, dan pada akhirnya kepuasan akhirnya akan berkurang, dia jadi kurang happy. Istilahnya "iya sih gue dapet bidadari turun dari khayangan, tapi lama banget sampe gue dikatain bujang lapuk sama temen-temen gue karena di umur segini belom nikah juga"

Satisficers gak terlalu ngoyo dan dia mendapatkan yang kurang perfect, tapi kebahagiaan dia lebih tinggi karena usahanya biasa aja, gak capek, gak nguras tenaga, duit, waktu banget kayak si Maximizers.

Kalo lo hoki mungkin lo bisa jadi si Maximizers dengan usaha si Satisficers, kayak prinsip ekonomi "dengan usaha sekecil-kecilnya, tapi tetep mendapatkan hasil yang terbaik"

Tapi banyak orang yang gak sadar kalo dia 'mungkin' udah memiliki yang terbaik di depan mata, tapi karena memang sifat dasar manusia yang gak pernah puas makanya dia masih penasaran sama apa yang ada di depannya, yang belom keliatan, yang jauh di seberang pulau sana. Terus di saat lo berjalan ke depan, lo baru sadar kalo yang lo tinggal di belakang itu adalah yang terbaik. 

Karena seperti cerita bunga diatas, kadang lo harus kehilangan sesuatu yang baik baru tau itu yang terbaik.

Terus gimana cara tau kalo dia adalah yang terbaik buat lo? Lo akan merasakannya sendiri kalo emang lo udah nemuin "that right one". Ketika secara sadar penuh lo akan berkata "pencarian gue cukup sampai di sini" nantinya.

Jadi kembali ke judul di atas "finding best of the best", mencari Mr./Ms. Perfect juga akan melelahkan dan butuh waktu panjang, tapi sayang juga kan kalo in chasing the Mr./Ms. Perfect ini lo malah kehilangan Mr./Ms. Very Good yang sudah ada di depan mata? Hehehe.

So, be wise.

Book Page Rhyme

0 comments
(weheartit.com)
It's page zero, hollow like an empty shell-souled hero. 
It's page one, introduction. What we want, is affection.
It's page two, and I already miss you.
It's page three, and I love the way you miss me.
It's page four, and I love you even more.
It's page five, and baby you're all my life.
It's page six, and the distance between us makes me sick.
It's page seven, but you're the best present I've ever been given.
It's page eight, but sorry all my sweet words are fake.
It's page nine, almost the end so I can pretend to be fine.
It's page ten, so we finally reach the end
Close the book, and let's forget how we used to look.
Open a new one, and let's get things done.




Rhyme by : @ftkf @benzbara @_rndr

25 July 2012

Dear you,

0 comments
This post is for you, if you read this.

I just wanted to tell you that, you can't act everything like you want without having consideration about someone's feeling.
This issue is not about me, this is about you and those million naive girls out there.
I don't want they get their heart broken just because your reckless demeanor.

I wanted to tell you,
Even if I never knew what's going on in your head back then,
I know that you just loved to make a move and tried to give it a shot to them
Some kind flirting thingy
You make them happy with your sweet act, bring them to the high level of colourful sky
And in the end you just drowned her to the deepest trough.

I don't know whether you really had a feeling for them or you just wanted to give them a try to love you. Or you think whether they could love you like I did, but you know none ever love you like the way I do.

Every girl don't wanna be just an option, since every of them is special so they deserve to be treated right. You might have an idea that you could love them in order to recover your last feeling into your last love. No, that idea would be end up hurting her anyway, if you care to know.

How you would know if she is the one? Feel your heartbeat, are they goes more faster than you think? When she is the one, you will have those hard feeling that will convincing your mind that she is the one.

So do not ever try to love someone when since day one you meet them you never had the 'it' feeling. Do not ever try to love someone, make a mess with someone's feeling and you just let them go like it was never happened anything before.

You know when you fallin in love with someone, you JUST FALL. You don't have to TRY TO FALL.

Good luck ;))

23 April 2012

Waktu

0 comments
Kamu membuat semuanya terasa mudah. Kamu tak mendesakku untuk langsung percaya. Kamu menunggu.
Kamu tidak berjanji akan membuat luka di hatiku benar-benar sembuh, tapi kamu bersedia menangis dan merasakan sakitnya bersamaku.
Tak peduli sebanyak apa aku menyangkal arti hadirmu, kamu tetap di sini bersamaku.

Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa dirimu. Aku tak bisa membayangkan hari-hari tanpa senyumanmu. Bagaimana rasanya hidup tanpa suara tawamu? Aku tak tahu. Aku tak ingin tahu.

Jadi, beri aku sedikit waktu. Aku akan berusaha semampuku sampai bisa mencintaimu sebesar kamu mencintaiku.

Sedikit waktu lagi sampai aku layak mendapatkanmu...

18 March 2012

Always

0 comments

I think loyalty is a luxury thing nowadays.

yang Terburu-buru.

0 comments
Aku tidak pernah percaya cinta yang terburu-buru karena semuanya butuh proses, bahkan untuk memasak mie instan saja dibutuhkan waktu 3 menit untuk merebusnya. Lalu bagaimana mungkin kamu baru mengenal seseorang beberapa hari saja dan mengatakan bahwa dia adalah the one? Menurutku, itu adalah euforia.


Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. Menurutku, itu hanya ketertarikan fisik saja. Untuk dapat menamakan rasa itu sebagai  rasa cinta butuh proses dan waktu yang panjang.


Aku tidak pernah percaya sesuatu yang worth it bisa didapatkan dengan mudah. Semuanya butuh proses dan usaha.


Aku tidak pernah percaya ada barang bagus dan bermerk dijual di box obralan bertulisakan "sale 50%", barang itu pasti tergantung anggun berjajar dengan barang berkualitas lainnya. Kecuali barang itu memang sudah tidak up to date atau ada cacat di beberapa bagiannya. Menurutku, kualitas barang berbanding lurus dengan harga yang harus dibayar.


In the end, it takes effort, money, or/and time for something worth it, for something you want the most. You have to fight for it because it's priceless.

17 March 2012

Komitmen

0 comments


Apa yang kebayang di pikiran kamu saat denger kata komitmen?
Sebuah hubungan yang serius? Atau suatu kontrak yang berlandaskan atas persetujuan kedua belah pihak? Banyak versi komitmen, dalam hal cinta, pekerjaan, kehidupan, dan lainnya.


Kalau menurut saya sendiri, komitmen itu adalah ikatan. Ikatan yang membatasi tindakan, ruang gerak dan mempengaruhi kehidupan kita secara langsung. Komitmen itu janji, sesuatu yang harus ditepati dan dipertanggungjawabkan.


Komitmen adalah kalimat syahadat yang diucapkan seorang umat beragama muslim kepada Tuhannya. Komitmen adalah ijab qabul yang dibacakan suami istri saat melangsungkan akad nikahnya. Komitmen adalah perjanjian kontrak yang ditandatangani seorang karyawan terhadap perusahaannya.


Komitmen adalah ucapan "I take you to be my wedded wife/husband, to have and to hold, from this day forward, for better for worse, for richer for poorer, in sickness and in health, to love and to cherish, till death do us part."


Komitmen adalah sesuatu yang membuat suami tetap mencintai istri yang badannya sudah melar akibat melahirkan anak-anak dari benihnya, memakai daster lusuh di rumah dan bau bawang karena memasak masakan rumahan demi memenuhi gizi anak-anaknya, mengurus rumah tangga, menyetrika pakaian kerja suaminya dan tetap bersyukur serta memberikan pujian kepada sang istri. Menguatkan istrinya saat sang istri terlalu lelah bekerja dan mengurus anak-anaknya, bahkan tetap bertahan dalam pernikahan saat sang istri tidak bisa memberikan keturunan.


Komitmen adalah sesuatu yang membuat istri tetap bertahan mencintai suaminya, mengurusnya dengan penuh kasih sayang, menunggunya pulang dari kantor dan mendengarkan segala macam cerita-cerita membosankan di kantornya. Tidak mengomel dan tetap bersyukur dengan seberapapun penghasilan yang diberikan oleh suaminya. Tetap memberikan dukungan dan doanya untuk kemajuan suaminya, serta tetap bertahan saat suaminya jatuh miskin atau jatuh sakit, karena dia tau saat itulah suaminya justru sangat membutuhkan dirinya.

15 March 2012

I love you, goodbye..

0 comments


I’m letting you go…
There were times when my head was filled with only thoughts of you. When my heart was overwhelmed with emotions meant only for you. In the darkness I’d close my eyes and whisper my goodnight to you. Every night, without a miss. When I went online it was you I searched for. You I wanted to share my day with. Only you. 

Before the dawn would break and I woke up suddenly, the chill disturbing my dreams, it was you that first came to mind. It was you that entered even my dreams. The touch I imagined upon my cheek - the soft, gentle hands on my face. That touch was yours. “my someone” was what i called it. I said I never gave it a name, it was an idea. I lied. It was always you. You were my someone. You were that one. 

When the pain in my chest was so achingly painful and my cheeks burned from all the tears I’d cried, it was you that brought the pain. When he held me in his arms it was you I imagined him to be. I gathered my strength and continued through life, but it was you I did it for. It was you I listen that song for. It was you that made me want to become someone else. 

It was you I always wrote to. Everybody writes to someone, and it was you. Sometimes I never realized it, but it was always you. You were always there, on the other side, always there. 

But I’m letting you go now. I don’t need you there anymore. I don’t think you ever needed me. I can stand on my own now and say goodnight to myself. I can write to myself and smile to myself and be sad to myself. 

I’m letting you go because that’s what you taught me to do. It’s still you, and will always be you, somewhere deep down there, even when I imagine someone else’s touch upon my cheek. 

I love you.

Goodbye.

Application Love Letter

0 comments
March 15, 2012

My future husband
Years from now

Dear Sir,
I am writing to apply for the position as your future wife that was advertised on Quran Annur;26 that the good man will end up with the good woman too. I have faith that you're the man that I'm waiting for all of these years.
I am 21 years old. I am a highly responsible, loving, caring and outgoing person who willing to know you more. With ability to support you and will understand you in any condition.
I believe my personality and experiences fit with your requirements.
I am available to meet you at a time that’s convenient to you. Please contact me to set up a time. I look forward to hear from you soon.

Sincerely,

Xeldenna Lydia Reliadi

25 December 2011

About First Love

0 comments
My daddy used to tell me that the first time you fall in love it changes your life forever. And no matter how hard you try, the feeling never goes away.-The Notebook

Do you ever just sit there and wonder why he chose you? Do you ever stop and think that it was just to good to be true? Does it ever seem like your afraid to lose him, because without him your whole life will be ruined.

Failing is the first step to success, crying is the first step to happiness. And heart break is the first step to true love.


And I hope the sun shines and it's a beautiful day I hope something reminds you of me, and you wish you had stayed. We can plan for change in the weather and time, but I never planned on you to stop loving me.

I'm not even upset, hurt or angry anynmore.

I'm just tired.
I'm tired of putting in more effort than I recieve. 
I'm tired of holding on for nothing. 
I'm tired of believing all your lies. 
I'm tired of getting my hopes up only to be disappointed again.


I think one of the worst feelings in the world, right behind heart break, is that disgustingly empty feeling you get, right after you spill your heart out and lay all your cards on the table.


Right after you get the courage to say everything you have been feeling and be completely and recklessly honest. it's that feeling you get right after you risk everything, and he just walks away.


Because then you realize that you just lost. you lost everything you didn't even know you had when you said "what do i have to lose?''

One day when it's way too late you're going to say, "I love you." Then when I don't reply you're going to muster up everything you have and ask, 



"Do you love me?" 


and you know what i'm going to say, 
"I used to love you, I wish I still did, but you were with all those other girls, and you were way too blind to see what was right in front of you the whole time. I've dropped you hints, and I've tried to make it clear, but you never caught on. So right now I'm going to have to say, we're just friends, like you did to me all those times."

I can't say "screw him" about the boy that I came the closest to loving. 
I would still do anything for him even though I know he wouldn't do the same for me; 
it hurts more than anything, but I can't stop care for him. 
Believe me, I've tried.

I might not have you in my life, and I might never have you in it again. I might not be the first thought that comes up to your mind when you wake up, or the last one that leaves your head once you go to sleep, but I will always remember you  and you will always and forever be that one stage in my life where my first true love ever existed. 


I often wonder why God made me fall in love with you, was it to punish me for something that I did wrong? Cause it couldn't be that he thought you seriously did love me?

You want me to prove that I really love you, but the only proof I can give you is I held on to you even though you didn't care, I've waited even though you weren't coming, I loved you for so long even though you didn't notice.

He said, "I didn't mean to break your heart,"
but before he could finish, I replied with,
"I didn't mean to fall in love either, but we all make mistakes."


Everyone has that relationship that they never quite get over. No matter what happens in between, when you're together it's like nothing has changed. Deep down, you both know you're supposed to be together, but you just can't seem to make it work.

Stop saying you’re sorry. You wanna know something? I knew. I knew you didn’t feel that way about me. I knew and I still let it happen...because, well, I figured that one night with you was better than never. So, will you stop saying you’re sorry? Because you didn’t know better, but I did. - Grey’s Anatomy


15 April 2011

mencintai secara dewasa

0 comments
Have you ever missed someone so much like there is one big hole in your chest? I have. For many times. Yes, I do miss you.

Semoga semua keputusan ini adalah yang terbaik. Aku tidak tau apa yang ada di depan sana. Tapi untuk saat ini, aku ingin kita belajar mencintai secara dewasa.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, apalagi untuk yang pertama. Udah banyak pengorbanan, sakit hati, air mata, kebahagiaan, dan cerita yang dibangun. Sudah terlalu sering aku mencoba mengkompromikan semuanya demi perasaan yang ada. Sampai akhirnya sekarang, semua terasa sia-sia. But, at least, I have tried.

Jutaan kata-kata yang aku tulis di sini tidak akan bisa melukiskan bagaimana aku merasa kehilanganmu, mungkin salahku yang terlalu dalam menyayangi kamu. Mestinya dari dulu aku bisa kuat untuk melangkah meninggalkanmu, tapi.. kamu tau, aku tidak bisa sekuat itu.

Aku tidak tau kenapa aku terus mencintai kamu walaupun aku tau aku akan terluka lagi seperti sebelumnya. Aku tidak pernah belajar dulu, aku tidak ingin belajar saat aku masih cukup kuat untuk tetap mencintai kamu.

Sekarang, aku akan merelakan semua harapan yang terlanjur aku gantung tinggi, jatuh begitu saja karena aku tak mampu lagi menangkapnya. Biarkan saja jatuh, luruh bersama derasnya hujan.

Aku akan mencintaimu secara dewasa, secara diam-diam. Aku akan selalu bersamamu di antara doa-doa tengah malamku. Aku mungkin tidak bisa di sampingmu lagi tapi aku tidak akan pernah berhenti menyayangi kamu, mungkin nanti porsinya akan berkurang, mungkin suatu saat nanti. I never stop loving you, I just learn to live without you.

And someday I hope you will understand.

17 December 2010

about hapiness

0 comments
Fiuuhh. Akhirnya kita sampai juga ya. Perjalanan tadi sangat panjang dan melelahkan. Tapi untungnya saya ditemani sama kamu jadinya kita bisa ngobrol banyak sepanjang jalan. Kalau dipikir-pikir lucu juga ya cara kita berkenalan tadi. Kita ternyata pernah satu sekolah tapi tidak saling mengenal, malah kita baru kenalan di dalam kereta tadi, haha. Kebetulan sekali ya

Tapi walaupun baru beberapa jam yang lalu kita berkenalan, saya merasa seperti kita sudah kenal lama. Seperti sejak beberapa tahun lalu. Mungkin karena kita pernah dibesarkan dalam lingkungan yang sama kali ya jadinya terasa tidak asing satu sama lain.

12 jam tadi terasa sangat cepat karena diselingi obrolan dan canda tawa kita. Kamu cerita kisah-kisah kamu sewaktu kecil sampai beranjak remaja. Kamu cerita tentang keluarga kamu, teman-teman sepermainan kamu sampai cerita cinta kamu. Begitu pun dengan saya, saya cerita banyak hal ke kamu.

Terima kasih ya sudah menemani saya. Membuat saya tertawa walaupun sebenarnya saya sedang sedih makanya saya melakukan perjalanan ini buat melupakan kesedihan dan masalah saya. Saya sangat beruntung sekali menemukan teman seperti kamu di saat seperti ini. Saya juga ada hadiah kecil nih untuk kamu, ini souvenir yang saya dapatkan saat saya traveling ke sebuah kota. Semoga bisa jadi kenang-kenangan ya.

Tuh lihat sudah ada yang menjemput kamu. Hati-hati yah. See you in the next chances.

Eh tapi sebentar deh.. tunggu dulu! Sepertinya saya kenal orang yang menjemput kamu. Itu siapa? Saya kayak pernah lihat di suatu tempat. Hmm bukan ya? Tapi mirip sekali. Ah yasudahlah mungkin hanya perasaan saya saja. Selamat jalan :)

Dia pergi.

Beberapa hari kemudian, saya kedatangan seseorang ke rumah saya. Dia seorang laki-laki bertubuh tegap dan memakai seragam coklat. Saya bingung, ada apa laki-laki ini mencari saya? Sepertinya saya gak pernah melakukan perbuatan kriminal. Pernah sih, mencontek teman saat ujian. Tapi kayaknya kurang kerjaan banget laki-laki ini menghukum saya karena perbuatan kriminal semacam itu.

Baiklah.

“Ada apa ya pak?” kata saya. Dia bertanya apakah saya mengenal wanita yang waktu itu menjemput kamu di stasiun. OHH.. wanita itu ya? Saya hanya tau kalau dia adalah temannya teman saya. Ternyata si bapak ini sedang mencari wanita itu karena sejak beberapa hari lalu, wanita itu hilang. Dan saya yang tidak tahu apa-apa, hanya berkata bahwa terakhir saya melihat wanita itu bersama kamu di stasiun.

Si bapak pun pulang tanpa informasi berarti.

Saya tidak tau kenapa si bapak bisa tau kalau saya kenal sama kamu. Atau mungkin memang dia terlalu pintar sehingga bisa menyelidiki kalau saya kenal kamu walaupun cuma di dalam kereta saat itu?

Kemudian saya berpikir. Apa yang membuat si bapak bisa menemukan saya? Bahkan dari saat berkenalan di kereta sampai turun di stasiun pun, kita tidak saling bertukar nomor telefon ataupun alamat. Saya hanya tau nama kamu, itu saja.

Mungkin kebetulan. Karena saya tinggal tidak jauh dari stasiun. Mungkin si bapak bertanya kepada setiap orang di sekitar stasiun ini. Mungkin saja. Karena hanya alasan itu yang terpikir oleh saya.

Kalau kamu baca tulisan ini, tolong kembalikan wanita itu. Saya kasihan melihat raut muka si bapak tadi yang tampak kebingungan dan sorot matanya sedih. Walaupun sebenarnya, saya juga sangat ingin melihat kamu bahagia. Waktu di stasiun itu, saat dia menjemput kamu. Kamu terlihat sangat sumringah, sorot mata kamu mencerminkan kerinduan pada wanita itu. Pasti kamu akan sangat sedih sekali dan merasa kehilangan bila wanita itu pergi.

Saya jadi bingung sendiri. Sebenarnya siapa yang lebih berhak atas dia? Kamu atau si bapak itu? Entahlah. That isn’t my business.

Tapi yang pasti. Saya hanya mengharapkan semuanya baik-baik saja dan berjalan di tempat yang seharusnya karena semua orang berhak untuk bahagia.

Happiness is not having what you want. It is wanting what you have.